Semantik

KATEGORI MAKNA LEKSIKAL

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Studi gramatika katagori kata adalah hal yang tidak pernah lepas dari pembicaraan. Dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada buku tata bahasa, baik yang tradisional maupun yang bukan, yang tidak membicarakan masalah kategori. Begitu penting, ruwet, dan kompleksnya persoalan kategori makna leksikal, sehingga tidak selesai-selesai dibicarakan orang dan tidak pernah ada kesepakatan di antara para ahli.
Secara umum kategori gramatikal yang banyak diikuti, membagi kata menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) kelompok yang disebut kata penuh (full word) dan (2) kelompok yang disebut partikel atau kata tugas (function word) ke dalam kelompok pertama termasuk kata dari kelas verbal, nominal, ajektival, dan adverbial; dan juga dalam kelompok kedua termasuk kata-kata yang disebut preposisi, konjungsi, dan interjeksi. Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah morfem dasar yang belum berkategori baik gramatikal maupun semantikal, misalnya morfem acu, juang, henti, kibar, kitar dan remang.
Secara gramatikal morfem-morfem tersebut tidak dapat muncul dalam satuan-satuan sintaksis tanpa bergabung dulu dengan morfem-morfem tertentu,  baik afiks maupun morfem dasar lainnya. Secara semantik morfem-morfem itu pun dianggap tidak bermakna. Sehingga dalam kamus Poerwadarminta (1982) maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) morfemorfem tersebut memang didaftar sebagai lema (entri) tetapi tidak bermakna yang diberi makna adalah bentuk derivasinya.
Pembahasan berikut akan dideskripsikan leksikal bahasa indonesia berdasarkan kategori semantiknya dengan menyebutkan ciri-ciri makna (komponen makna) yang menonjol dari setiap kelompok leksem, tetapi dengan tetap bertumpu pada kategori gramatikalnya.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa sajakah bagian kategori leksikal?
2.      Deskripsikan leksikal bahasa berdasarkan katagori leksikal dari setiap kelompok leksem?

C.     Tujuan

1.      Mengetahui apa saja bagian dari kategori leksikal
2.      Dapat menjelaskan deskripsi leksikal berdasarkan kategori leksikal dari setiap kelompok leksem



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Kategori Nominal

Kata-kata atau leksem-leksem nominal dalam bahasa Indonesia secara semantik mengandung ciri makna [+Benda (B)]; dan oleh karena itu leksem-leksem nominal ini secara struktural akan selalu dapat didahului oleh preposisi di atau pada.
Berdasarkan analisis semantik lebih lanjut leksem-leksem nominal itu dapat dikelompokkan atas tipe-tipe:
  1. Tipe I, yang berciri makna utama [+Benda,+ Orang (0)]. Tipe I ini terbagi atas enam subtipe I, yang masing-masing berbeda pada ciri makna ketiga.
  2. Tipe II, yang berciri makna utama [+B dan institusi (I). Contoh pemerintah, DPR, SMA, dan Pelni. Selain itu leksem-leksem nominal tipe II ini memiliki pula ciri makna [+ Orang metaforis (Om), +K, makna [+ B, +I, +Om, +K, dan +H].
  3. Tipe III, yang berciri makna utama [+B, +Binatang (Bi)]. Contoh : tongkol,kucing, gelatik, harimau, dan onta.
  4. Tipe IV, yang berciri makna utama [+B, dan +Tumbuhan (T)]. Leksem nominal tipe IV ini terdiri atas tiga subtipe
  5. Tipe V, yang mengandung ciri makna utama [+B, buah-buahan (Bb)]. Misalnya durian, nangka, pisang, mangga, dan sawo.
  6. Tipe VI, yang mengandung ciri makna utama [+B, +Bunga-bungaan (Bbu)]. Misalnya melati ,kenanga, cempaka, seruni, dan mawar. Selain itu leksem nominal tipe VI ini memiliki pula ciri makna [+H, +K, dan –Hi], sehingga dengan demikian secara keseluruhan mengandung ciri makna [+B, +Bbu, +H, +K, dan –Hi].
  7. Tipe VII, yang mengandung ciri makna utama [+B, +Peralatan (al)]. Leksem-lksem nominal tipe VII ini terbagi atas sembilan subtipe
  8. Tipe VIII, yang mengandung ciri makna utama [+B, dan Makan-Minuman (Mm)]. Misalnya roti, bakso, nasi,gado-gado, air, dan teh. Selain itu leksem-leksem nominal ini memiliki pula makna {+K, -H, dan –Hi]; Jadi, secara keseluruhan leksem nominal tipe VIII ini mengandung ciri makna [+B, +Mm, +K, -H, dan –Hi]. Semua leksem nominal tipe VIII ini tak terhitung sebab *beberapa bubur, *beberapa sayur, *beberapa buah, dan *beberapa roti, tidak berterima.
  9. Tipe IX, yang mengandung ciri makna utama [+B, +Geografi (Ge)]. Misalnya gunung, sungai, kot,laut, dan desa. Selain itu leksem-leksem ini memiliki pula ciri makna [K, +H, dan –Hi]; sehingga secara keseluruhan leksem ini memiliki ciri makna [+B, +Ge, +K, +H, dan –Hi]. Bagaimana dengan Galunggung, Toba, Citarum,Jakarta, Malaysia dan Sumbawa? Leksem-leksem ini yang berciri makna [+B, +ND, -O, +K, -H]. Jadi termasuk nama diri, bukan orang, tidak terhitung.
  10. Tipe X, yang mengandung ciri makna [+B, +Bahan baku (Bb0]. Misalnya : pasir,s emen, tepung,batu, dan kayu. Selain itu leksem-leksem nominal tipe X memiliki pula makna [K, -H]. Jadi, secara keseluruhan leksem-leksem ini memiliki cir makna [+B, +Bb, +K, -H]

B.     Kategori Verbal

  1. Tipe I
            Tipe I adalah verba yang secara semantik menyatakan tindakan, perbuatan, atau aksi. Tampubolon menyebutkan kata kerja (KK) aksi; tetapi di sini disebut verba-tindakan. Pelaku verba ini adalah sebuah maujud berupa sebuah nomina yang berciri makna [+bernyawa]; dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut. Misalnya, kata makan dan baca pada kalimat Ketika kami makan dia Cuma baca koran saja.
  1. Tipe II
Tipe II adalah verba yang menyatakan tindakan dan pengalaman. Pelaku verba ini adalah sebuah maujud berupa nomina berciri makna [+bernyawa] dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut serta sekaligus dapat pula sebagai maujud yang mengalami (secara kognitif,emosional, atau sensasional) tindakan yang dinyatakan oleh verba tersebut. Misalnya leksem (me) naksir dan (men) jawab pada kalimat berikut :
1)      Dia menaksir harga mobil bekas itu .
2)      Beliau menjawab pertanyaan para wartawan.
  1. Tipe III
Tipe III adalah verba yang menyatakan tindakan dan pemilikan (benafaktif). Pelaku verba ini adalah maujud berupa nominal berciri makna [+bernyawa] dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut; sedangkan pemilik (bisa juga ketidakpemilikan) juga berupa nomina berciri makna [+bernyawa]. Misalnya kata beli dan bantu dalam kalimat berikut :
1)      Dika beli mobil dari Pak Fuad
2)      Pemerintah bantu para petani
  1. Tipe IV
Tipe VI adalah verba yang menyatakan tindakan dan lokasi (tempat). Artinya tindakan yang dinyatakan oleh verba itu sekaligus ”menyarankan” adanya lokasi (baik tempat asala, tempat berada, maupun tempat tujuan). Pelaku tindakan berupa nomina berciri makna [+bernyawa] yang dapat mengalami tindakan itu sendiri maupun tidak. Sedangkan lokasi berupa sebuah frase preposisional. Misalnya kata pergi dan tiba pada kalimat berikut :
1)      Nita pergi ke pasar
2)      Beliau baru tiba dari Yogyakarta
  1. Tipe V
Tipe V adalah verba yang menyatakan proses. Subjek dalam kalimat ini berupa nomina umumyang mengalami proses perubahan keadaan atau kondisi. Misalnya, kata layu dan pecah pada kalimat berikut :
1)      Daun tembakau itu layu
2)      Kaca jendela rumah itu pecah.
  1. Tipe VI
Tipe VI adalah verba yang menyatakan proses-pengalaman. Subjek dalam kalimat ini berupa nomina bernyawa yang mengalami suatu proses perubahan yang dinyatakan oleh verba tersebut. Misalnya leksem bosan dan cemas pada kalimat berikut :
1)      Rupanya kau sudah bosan padaku.
2)      Ibu cemas akan keselamatan anak-anak itu.
  1. Tipe VII
Tipe VII adalah verba yang menyatakan proses benafaktif subjek dalam kalimat yang menggunakan verba tipe VII berupa nomina yang mengalami suatu proses atau kejadian memperoleh atau kehilangan (kerugian). Misalnya leksem menang dan kalah pada kalimat berikut :
1)      PSSI menang 2 – 0 atas Sngapura
2)      Dia kalah 2 juta rupiah
  1. Tipe VIII
Tipe VIII adalah verba yang menyatakan proses-lokatif. Subjek dalam kalimat yang mempergunakan verba tipe VIII ini berupa nomina yang mengalami suatu proses perubahan tempat (lokasi). Misalnya leksem tiba dan terbit pada kalimat berikut :
1)      Pesawat itu baru tiba dari Surabaya
2)      Matahari terbit di ufuk timur.
  1. Tipe IX
Tipe IX adalah verba yang menyatakan keadaan. Subjek dalam kalimat yang menggunakan verba tipe IX berupa nomina umum yang berada dalam keadaan atau kondisi yang dinyatakan oleh verba tersebut. Misalnya leksem cerah dan kering pada kalimat.
1)      Wajah mereka selalu cerah
2)      Sawah-sawah di situ mulai kering
  1. Tipe X
Tipe X adalah verba yang menyatakan keadaan pengalaman. Subjek dalam kalimat yang menggunakan verba tipe X ini adalah sebuah nomina yang berada dalam keadaan kognisi, emosi, atau sensasi. Misalnya leksem takut dan tahu pada kalimat berikut.
1)      Dia memang takut kepada orang itu
2)      Kami tahu hidup di kota memang sukar.
  1. Tipe XI
Tipe XI adalah verba yang menyatakan keadaan benafaktif subjek dalam kalimat yang menggunakan verba tipe IX ini adalah sebuah nomina yang menyatakan memiliki, memperoleh, atau kehilangan sesuatu. Misalnya leksem punya dan ada pada kalimat.
1)      Ia sudah punya istri
2)      Dia ada uang lima juta
  1. Tipe XII
Tipe XII adalah verba yang menyatakan keadaan – lokatif. Subjek pada kalimat uang menggunakan verba tipe XII ini adalah nomina yang berada dalam satu tempat atau lokasi. Misalnya leksem diam dan hadiri dalam kalimat berikut.
1)      Petani itu diam di gubuk itu
2)      Pak Menteri hadir di sana.

C.    Kategori Ajektival

Leksem-leksem ajektival dalam bahasa Indonesia secara semantik adalah leksem yang menerangkan keadaan suatu nomina atau menyifati nomina itu. Secara sintaktik adalah leksem yang dapat diawali kata ingkar tidak, dapat diawali kata pembanding paling, dan dapat direduplikasikan serta diberi imbuhan se-nya (lihat Ramlan 1985, Harimurti 1986, dan Moeliono 1988).
Secara semantik kita dapat membagi leksem ajektival ini menjadi delapan tipe, yaitu:
1)      Tipe I adalah leksem ajektif yang menyatakan sikap, tabiat, atau perilaku batin manusia (termasuk yang dipersonifikasikannya).
2)      Tipe II adalah leksem ajektif yang menyatakan keadaan bentuk seperti bundar, bulat ,lengkung, bengkok, lurus, dan, miring.
3)      Tipe III adalah leksem ajektif yang menyatakan ukuran seperti panjang, pendek, tinggi, gemuk, kurus, lebar, ringan, dan, berat.
4)      Tipe IV adalah leksem yang menyatakan waktu dan usia, seperti lama, baru ,muda,dan tua.
5)      Tipe V adalah leksem ajektif yang menyatakan warna, seperti merah, kuning, biru, hijau, ungu, cokelat, dan lembayung.
6)      Tipe VI adalah leksem ajektif yang menyatakan jarak seperti jauh, dekat, dan sedang.
7)      Tipe VII adalah leksem ajektif yang menyatakan kuasa tenaga seperti kuat, lemah, segar, lesu, dan tegar.
8)      Tipe VII adalah leksem ajektif yang menyatakan kesan atau penilaian indra seperti sedap, lezat, manis, pahit, cantik, tampan, cemerlang, harum, bau,wangi, kasar, halus, dan licin.

D.    Kategori  Pendamping

Kategori pendamping adalah  leksem-leksem tetentu yang mendampingi nomina, verba, ajektif, dan juga klausa untuk memberikan keterangan tertentu yang bukan menyatakan keadaan atau sifat.
  1. Pendamping Nomina
Leksem-leksem pendamping nomina, antara lain, menyatakan:
1)      Pengingkaran. Leksem ini hanya satu yaitu kata bukan yang ditempatkan di muka nomina tersebut. Misalnya bukan buku, bukan ayam, bukan guru, dan bukan agama.
2)      Kuantitas atau jumlah, untuk menyatakan kuantitas  banyak  antara lain:
1)      Beberapa
2)      Semua
3)      Seluruh
4)      Sejumlah
5)      Banyak
Semua pendamping yang menyatakan kuantitas di atas ditempatkan di muka nominanya dan yang lain adalah sebagian, separuh, dan sementara.
3)      Pembatasan. Leksemnya adalah hanya dan saja. leksem hanya ditempatkan di muka nomina, sedangkan leksem saja di belakang nomina. Misalnya hanya air putih, hanya dia, hanya sopir, kopi saja, siapa saja, dan mereka saja.
4)      Tempat berada. Leksem yang digunakan adalah di dan pada. Misalnya di kelas, di pasar, di Bogor, pada dinding, pada ayah, dan pada tahun. Pendamping di dan pada seringkali secara bebas dapat dipertukarkan seperti di tahun atau pada tahundi ayah atau pada ayah, tetapi di Bogor tidak dapat menjadi pada Bogor. Perbedaanya adalah menyatakan lokasi yang sebenarnya, sedangkan pada untuk lokasi yang tidak sebenarnya. Bogor adalah lokasi yang sebenarnya. Jadi, dapat dengan pembanding di tetapi tidak dapat dengan pendamping pada. Sebaliknya agama tidak dapat di agama tetapi dapat pada agama.
5)      Tempat Asal. Leksem yang digunakan adalah dari. Misalnya dari Jepang, dari rumah, dan dari pasar. Selain menyatakan asal tempat, pendamping dari dapat juga menyatakan asal bahan seperti dari gula, dari semen, dan dari tanah liat; juga dapat menyatakan asal waktu seperti dari pagi, dari kemarin, dan dari hari senin.
6)      Tempat tujuan atau arah sasaran. Leksem yang digunakan adalah ke dan kepada. Misalnya ke pasar, ke Bogor, ke sekolah; kepada ayah, kepada polisi, kepada agama. Pendamping ke lazim untuk menyatakan tempat yang sebenarnya sedangkan kepada untuk menyatakan tempat yang tidak sebenarnya.
7)      Hal atau perkara. Leksem yang digunakan adalah tentang, mengenai, perihal, dan masalah. Pendamping ini lazim digunakan di depan nomina yag berada dalam suatu klausa intransitif. Misalnya:
1)      Berdiskusi mengenai nilai-nilai sastra.
2)       Berbicara tentang kenakalan remaja.
3)      Berdebat mengenai pancasila.
8)      Alat. Leksem yang digunakan adalah kata dengan, misalnya (menulis) dengan pensil, (memotong) dengan pisau, dan (mengikat) dengan tali. Tapi perlu dicatat, pendamping dengan selain menyatakan “alat” dapat juga digunakan untuk menyatakan kebersamaan seperti (pergi) dengan kakak, (berjalan) dengan adik dan (bermain) dengan teman-temannya.
9)      Pelaku. Leksem yang digunakan adalah kata oleh yang ditempatkan di muka nomina. Misalnya oleh anak buahnya, dan oleh ayahnya.
10)  Batas tempat dan batas waktu. Leksem yang digunakan adalah kata,  sampai dan hingga yang ditempatkan di muka nomina atau nomina waktu. Misalnya, sampai Jakarta, sampai pasar, sampai pagi, sampai pukul dua,; hingga sore, hingga larut malam, dan hingga tengah hari.
  1. Pendamping Verba
Leksem-leksem pendamping verba, antara lain, menyatakan:
1)      Pengingkaran. Leksem yang digunakan adalah kata tidak dan bukan yang ditempatkan di muka verba itu. Misalnya tidak manditidak datang, tidak pulang, tidak menangis, dan tidak berhasil.
Leksem bukan hanya digunakan di muka verba dalam suatu klausa yang dikontraskan dengan klausa lainnya. Misalnya :
1)      Dia bukan menangis karena sedih melainkan karena gembira.
2)       Kami bukan membantah perintah Bapak, hanya meminta waktu untuk mengerjakannya.
2)      Berbagai aspek. Antara lain aspek selesai (perpektif) dengan leksem sudah, telah,dan pernah, aspek belum selesai (imperfek) dengan leksem masih dan lagi; aspek baru mulai (inkoatif) dengan leksem mulai. Contoh pemakaian :
1)      Mereka sudah makan.
2)      Ibu pernah makan daging rusa.
3)      Dia masih duduk di SD.
3)      Berbagai modalitas. Antara lain leksem belum,sedang, akan, boleh, dapat, harus, wajib, mesti, dan jangan.
1)      Susi sedang makan
2)      Dia akan datang
3)      Kita mesti mendengar kata guru
4)      Kuantitas. Leksem yang diguakan, antara lain; sering, seringkali, acapkali, jarang, banyak, kurang selalu, dan sebagainya. Contoh pemakaian:
1)      Kami sering duduk di depan kelas.
2)      Dia seringkali lewat dari jalan ini.
5)      Kualitas. Leksem yang digunakan antara lain: sangat, agak, cukup, paling, dan sekali. Leksem-leksem ini lazimnya mendampingi verba keadaan. Contoh pemakaian:
1)      Lili sangat cantik.
2)      Kami paling suka menulis puisi ketika senja menjelma.
6)      Pembatasan. Leksem yang digunakan adalah kata saja dan hanya. Leksem saja diletakkan di belakang verba, sedangkan hanya di muka verba. Misalnya menangis saja, tidur saja.
  1. Pendamping  Ajektiva
Leksem-leksem pendamping ajektiva, antara lain menyatakan:
1)      Pengingkaran. Leksem yang digunakan adalah kata tidak dan bukan. Misalnya tidak baik, tidak lurus, tidak gemuk, tidak bandel, dan tidak merah.
Leksem bukan dapat digunakan dimuka nama warna seperti bukan merah, bukan hijau, dan bukan kuning; dan di muka ajektiva yang mirip dengan verba keadaan seperti bukan bandel, bukan kosong, bukan nakal, dan bukan buruk.
2)      Kualitas. Leksem yang digunakan adalah kata-kata sangat, agak, cukup, paling, sekali, maha, dan serba. Misalnya sangat baik, agak datar, cukup licin, paling miskin, pandai sekali, maha mulia, dan serba modern.
  1. Pendamping Klausa
Leksem-leksem pendamping klausa mempunyai posisi yang agak bebas. leksem-leksem itu dapat ditempatkan pada awal klausa di tengah klausa, atau pada akhir klausa. Distribusinya ini tentu saja memberi nuansa makna yang berbeda.
Leksem-leksem pendamping klausa ini, antara lain, memberi makna:
1)      Kepastian. Leksem yang digunakan adalah pasti, tentu, dan memang misalnya:
1)      Pasti dia hadir
2)      Dia hadir pasti
3)      Memang, dia belum makan dari pagi
4)      Dia memang belum makan dari pagi
2)      Keraguan. Leksem yang digunakan adalah kata barangkali, mungkin, dan boleh jadi. Misalnya:
1)      Barangkali dia lupa.
2)      Kami mungkin tidak hadir di pesta pernikahanmu.
3)      Harapan. Leksem yang digunakan adalah kata-kata moga-moga, semoga, mudah-mudahan, hendaknya, sebaiknya, dan seharusnya. Misalnya:
1)      Kamu  hendaknya menemani ayah ke ladang.
2)      Kamu seharusnya tidak berkata begitu

E.     Kategori Penghubung

  1. Penghubung Koordinatif
Leksem-leksem penghubung koordinator, antara lain, menyatakan makna :
1)      Penggabungan.
Misalnya :
Ibu dan ayah tidak ada di rumah
2)      Pemilihan. Leksem yang digunakan adalah kata atau. Leksem ini dapat menghubungkan kata dengan kata dan juga klausa dengan klausa. Misalnya :
Dia atau saya yang kau cari?
3)      Mempertentangkan atau mengontraskan.
Misalnya:
Anak itu cerdas tetapi malas.
4)      Mengoreksi atau membetulkan. Leksem yang digunakan adalah melainkan dan hanya yang digunakan di antar dua klausa.
Misalnya :
yang diperlukan dewasa ini bukan pemuda-pemuda yang hanya pandai bicara, melainkan yang mau bekerja.
5)      Menegaskan. Leksem yang digunakan adalah bahkan, itupun, malah, lagipula, apalagi, padahal, dan jangankan.
Contoh berikut :
a.       Kikirnya bukan main. Bahkan untuk makan pun dia segan mengeluarkan uang.
b.      Dia Cuma menyumbang lima ratus ribu. Itu pun setelah berulang – ulang kita datangi.
6)      Pembatasan.
Contoh :
a.       Semua sudah mengambil uang ganti rugi, kecuali pak Hamdan dan pak Hamid.
b.      Soal-soal itu dapat kuselesaikan dengan baik, hanya soal nomor lima yang aku ragukan jawabannya.
7)      Mengurutkan.
Contoh :
a.       Dia mengambil sebuah buku, lalu duduk membacanya.
b.      Beliau menyilakan kami masuk, kemudian menyuruh kami duduk.
8)      Menyamakan. Leksem-leksem yang digunakan adalah yaitu dan yakni untuk menyamakan dan menjalaskan; dan leksem adalah dan ialah untuk menyamakan-menjelaskan dua konstituen yang sama maknanya. Perhatikan contoh berikut :
a.       Tugas kami, yaitu membersihkan ruangan ini, telah kami selesaikan dengan baik.
b.      Kedua mahasiswa itu, yakni Doli dan Karmin, sering mendapat teguran.
9)      Kesimpulan dari yang sudah dibicarakan sebelumnya. Perhatikan contoh berikut!
a.       Bulan yang lalu kau meminjam Rp 5.000,00 minggu yang lalu kau meminjam Rp 3.00,00: dan sekarang kau mau meminjam lagi Rp 2.000,00. jadi, hutangmu semua ada Rp 10.000,00.
b.      Mereka adalah orang-orang yang sering berlaku curang. Oleh karena itu kita harus berhati-hati menghadapinya.
  1. Penghubung Subordinatif
Penghubung subordinatif menghubungkan dua konstituen yang kedudukannya tidak setingkat. Konstituen yang satu merupakan konstituen bebas, sedangkan konstitue yang lain, yang di mukanya diberi leksem penghubung subordinatif ini merupakan konstituen bawahan yang terikat pada konstituen pertama.
Leksem-leksem subordinatif ini antara lain,menyatakan makna :
1)      Penyebab. Leksem yang digunakan adalah sebab, karena, lantaran, dan berhubung, Misalnya :
a.       Kami tidak datang sebab kami tidak diundang.
b.      Karena belum membayar iuran SPP, dia disuruh pulang.
2)      Akibat. Leksem yang digunakan adalah hingga atau sehingga, sampai, dan sampai-sampai. Misalnya :
a.       Dia terlalu banyak makan mangga muda hingga iperutnya sakit.
b.      Tukang copet itu dipukuli orang banyak sampai mukanya babak telur.
3)      Syarat atau kondisi yang harus dipenuhi. Leksem yang digunakan adalah jika, jikalau, kalau, bila, bilaman, dan asal. Misalnya
a.       Saya pasti datang jika diundang
b.      Kalau saya menang SDSB, kalian akan saya belikan mobil seorang sebuah.
4)      Pengandaian. Leksem yang digunakan adalah andaikata, seandainya, dan andaikan. Misalnya :
a.       Andaikata ibuku masih ada, tentu kehidupanku akan lebih baik.
b.      Seandainya pasir ini menjadi gandum kita tidak akan kekurangan bahan pangan.
5)      Penegasan. Leksem yang digunakan adalah walau (walaupun), biar (biarpun), meski (meskipun), kendati (kendatipun),sungguhpun, sekalipun, dan walaupun. Misalnya :
a.       Meskipun hujan lebat dia berangkat juga ke kantor.
b.      Dia ke skolah juga biarpun kesehatannya tidak mengizinkan.
6)      Perbandingan. Leksem yang digunakan adalah seperti, sebagai, laksana, seolah-olah, dan seakan-akan. Misalnya.
a.       Mereka berjalan tergesa-gesa seperti orang dikejar hantu.
b.      Dengan cepat disambarnya tas orang itu sebagai elang menyambar anak ayam.
7)      Tujuan. Leksem yang digunakan adalah agar, supaya, untuk, buat, bagi, dan guna. Perhatikan contoh berikut!
a.       Kami berangkat pagi-pagi supaya tidak terlambat tiba di sekolah.
b.      Agar tumbuhnya baik, tanaman ini harus diberi pupuk secukupnya.
8)      Waktu. Leksem yang digunakan bermacam-macam, tergantung pada waktu  yang diterangkan. Di antaranya adalah ketika, sewaktu, dan, tatkala untuk menyatakan waktu yang bersamaan; sementara, selama sambil dan seraya untuk menyatakan jangka waktu tertentu yang bersamaan; sejak atau semenjak untuk menyatakan wal waktu; sampai untuk menyatakan batas waktu; sebelum untuk menyatakan waktu lebih dahulu sesudah, setelah, dan sehabis untuk menyatakan waktu lebih kemudian. Perhatikan contoh pemakaian berikut!.
a.       Mereka datang ketika saya tidak ada di rumah.
b.      Sewaktu saya berumur lima tahun kakek meninggal.
c.       Tatkala melihat kami, dia cepat-cepat bersembunyi.
9)      Penjelasan. Leksem yang digunakan adalah kata bahwa. Misalnya :
a.       Ayah berkata bahwa hari ini dia akan ke Bogor.
b.      Bahwa dia sudah menikah, kami sudah tahu.
10)  Keadaan atau cara. Leksem yang digunakan dengan dan tanpa. Misalnya :
a.       Dengan berbisik-bisik ditawarkannya majalah porno itu kepada setiap penumpang
b.      Dia berjalan terus tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan.


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Kategori makna leksikal mengkaji tentang (1) kategori nominal yang terbagi atas sepuluh tipe, yaitu:  orang, institusi, binatang, tumbuhan, buah-buahan, bunga-bungaan, peralatan, makanan-minuman, geografi, bahan baku; (2) kategori verbal terdiri dari duabelas tipe, yaitu: tindakan, pengalaman, pemilikan, lokasi, proses, proses-pengalaman, memperoleh atau merugi, lokatif, keadaan, keadaan pengalaman, keadaan benefaktif, dan keadaan lokatif; (3) kategori adjektival; (4) kategori pendamping, meliputi: pendamping nomina, pendamping verba, pendamping ajektiva, dan pendamping klausa; (5) kategori penghubung, meliputi: penghubung koordinatif dan penghubung subordinatif.

B.     Saran

Makalah ini masih bersifat sangat sederhana dan singkat, serta dalam penyusunan makalah ini masih memerlukan kritik ataupun saran yang membangun untuk penulis



DAFTAR PUSTAKA


Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Reneka Cipta.
Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Reneka Cipta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UTS Semantik

UTS Ilmu Alamiah Dasar

Tugas Ke-2 IAD