Strategi Belajar Mengajar

MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DALAM PEMBELAJARAN CERPEN UNTUK KELAS VIII SMP
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang


Mata pelajaran Bahasa Indonesia perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam memberikan arahan pembelajaran Bahasa Indonesia kepada siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu dalam membelajarkan Bahasa Indonesia kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode, dan model pembelajaran  yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Oleh karena itu model pembelajaran Talking Stick dapat menjadi salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan, dalam proses mengajar.
Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik (siswa), kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka ada beberapa pertanyaan terkait model pembelajaran Talking Stick, yaitu:
1.      Apakah yang dimaksud dengan Konsep tentang Belajar dan Pembelajaran?
2.      Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Talking Stick?
3.      Bagaimana sejarah model pembelajaran Talking Stick?
4.      Bagaimana langkah-langkah Model pembelajaran Talking Stick ?
5.      Apakah Kelebihan dan Kekurangan dalam Model Pembelajaran Talking Stick ?
6.      Apakah yang dimaksud dengan Cerpen ?
7.      Apakah Ciri-ciri Cerpen ?
8.      Apakah Struktur dalam Cerpen ?
9.      Apakah Unsur-unsur yang membangun Cerpen ?
10.  Apakah Fungsi Cerpen ?
11.  Bagaimana Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang akan diaplikasikan dalam pembelajaran cerpen untuk kelas VIII dengan menggunakan Model Pembelajaran Talking Stick tersebut ?

C.    Tujuan


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Konsep tentang Belajar dan Pembelajaran

Belajar bagi sebagian orang diartikan sebagai suatu tindakan atau perbuatan mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/ materi pelajaran. Namun demikian, belajar sesungguhnya bukan hanya terbatas pada pengertian di atas. Menurut Syah (2006:56) belajar adalah suatu perubahan tingkah laku. Sedangkan Catharina (2004:3) belajar adalah “…proses penting bagi perubahan prilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan”.
Darsono (2000:24) mengemukakan bahwa “belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku”. Senada dengan pengertian di atas, Slameto (2003:2) mengartikan belajar adalah “…suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Sedangkan Hakim (2000:1), mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan didalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain - lain kemampuan.  
Dari beberapa pengertian tentang belajar di atas, disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sesuatu perubahan pada dirinya untuk lebih baik, baik dalam tingkah laku (perilaku) ataupun untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih luas lagi.
Jika belajar sebagaimana diuraikan di atas lebih ditekankan kepada adanya perubahan tingkah laku pada diri murid, maka pembelajaran lebih mengarah pada upaya guru untuk mencapai tujuan pembelajaran melalui strategi, metode dan teknik tertentu dalam pelaksanaan pembelajaran kepada murid.
Terkait dengan hal tersebut, maka pemilihan metode pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain itu juga, harus disesuaikan dengan jenis materi pelajaran, tingkat peebedaan individu dan karakteristik murid, serta situasi atau kondisi dimana proses pembelajaran tersebut akan berlangsung. Dengan demikian, jelaslah bahwa yang dimaksud pembelajaran dalam hal ini adalah suatu proses atau kegiatan belajar mengajar dan berhubungan dengan metode mengajar ditinjau dari aspek pelaksana pembelajaran, yaitu guru.
Dalam pelaksanaan pembelajaran sendiri, dikenal banyak jenis metode dan teknik pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, tetapi tidak semua sama efektifnya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Untuk itu dibutuhkan kreativitas guru dalam memilih dan mengembangkan metode atau teknik pembelajaran sesuai dengan kurikulum materi pelajaran yang diajarkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka Mager (Hamzah, 2009:8) mengemukakan beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu:
1.      Beorientasi pada tujuan pembelajaran. Tipe perilaku apa yang diharapkan dapat dicapai oleh murid. Skenario pembelajaran disusun berdasarkan indikator dan kegiatan pembelajaran yang terlampir dalam silabus, bahkan guru dapat mengembangkannya.
2.      Pilih teknik pembelajaran yang sesuai dengan keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki saat bekerja nanti. Pelatihan dan pengembangan keterampilan murid perlu ditekankan dalam proses pembelajaran.
3.      Mempergunakan media pembelajaran sebagai stimulus dan ransangan pada indera murid. Media yang digunakan haruslah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam satu kompetensi dasar yang diajarkan.

B.     Pengertian Metode Talking Stick

Model pembelajaran Talking Stik adalah suatu model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru.
Dalam penerapan model pembelajaran Tipe Talking Stik ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat, yang dalam topik selanjutnya menyiapkan dan mempersentasekan laporannya kepada seluruh kelas.

C.    Sejarah Metode Pembelajaran Talking Stick

Tongkat berbicara telah digunakan selama berabad-abad oleh suku–suku Indian sebagai alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat berbicara. Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua mendapatkan giliran berbicara, tongkat itu lalu dikembalikan lagi ke ketua/pimpinan rapat.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Talking Stick dipakai sebagai tanda seseorang mempunyai hak suara (berbicara) yang diberikan secara bergiliran/bergantian.

D.    Langkah-langkah Model Talking Stick

  1. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang.
  2. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
  3. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
  4. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
  5. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan.
  6. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
  7. Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan.
  8. Guru memberikan kesimpulan.
  9. Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
  10. Guru menutup pembelajaran.

E.     Kelebihan dan Kekurangan dalam Praktek Pembelajaran

Menurut Sri Widayati metode pembelajaran talking stick mempunyai kelebihan dan kekurangan antara lain:
Kelebihan
  1. Dapat menciptakan suasana yang menyenangkan, sehingga siswa tidak tegang dan bisa belajar dengan baik, sehingga siswa merasa termotivasi dan senang untuk dapat mengikuti pelajaran serta dapat menguasai materi pelajaran.
  2. Dapat sekali dayung dua pelajaran yaitu pelajaran beryanyi dan mapel yang dipakai.
  3. Siswa menjadi termotivasi untuk kreatif dalam berbagai macam lagu.
Kekurangan
  1. Model pembelajaran ini tidak efektif jika siswa tidak bisa bernyanyi.
  2. Pemberian sanksi yang kurang pas akan menghambat proses pembelajaran.
  3. Membutuhkan waktu yang agak lama.

F.     Pengertian Cerpen

Cerpen (cerita pendek) adalah jenis karya sastra berbentuk prosa dan bersifat fiktif yang menceritakan/menggambarkan suatu kisah yang dialami oleh suatu tokoh secara ringkas disertai dengan berbagai konflik dan terdapat penyelesaian atau solusi dari masalah yang dihadapi.
Cerita pendek memberikan kesal tunggal atau fokus pada satu tokoh, mempunyai kurang dari 10.000 kata dan didalamnya terdapat klimaks (puncak masalah) dan penyelesaian. Cerpen cenderung singkat, padat, dan langsung pada tujuannya.

G.    Ciri-Ciri Cerpen

1.      Terdiri kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) kata.
2.      Selesai dibaca dengan sekali duduk.
3.      Bersifat fiktif.
4.      Hanya mempunyai 1 alur saja (alur tunggal).
5.      Isi dari cerita berasal dari kehidupan sehari-hari.
6.      Penggunaan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca.
7.      Bentuk tulisan yang singkat (lebih pendek dari Novel).
8.      Penokohan dalam cerita pendek sangat sederhana.
9.      Mengangkat beberapa peristiwa saja dalam hidup.
10.  Kesan dan pesan yang ditinggalkan sangatlah mendalam sehingga si pembaca ikut merasakan isi dari cerita pendek tersebut.

H.    Struktur Cerpen

Hampir mirip seperti teks anekdot. Ada 6 elemen yang membangun teks cerpen sehingga menjadi utuh, 6 struktur cerita pendek berikut ini:
  1. Abstrak: gambaran awal dari cerita yang akan diceritakan, bersifat opsional..
  2. Orientasi: berhubungan dengan waktu, suasana, tempat di dalam cerita pendek tersebut.
  3. Komplikasi: urutan kejadian yang dihubungkan secara sebab dan akibat. Karakter dan watak tokoh biasanya terlihat di struktur ini.
  4. Evaluasi: konflik yang terjadi dan menuju pada klimaks serta mulai mendapatkan penyelesaian dari konflik tersebut.
  5. Resolusi: pengarang mengungkapkan solusi terhadap masalah yang dialami tokoh dalam cerpen.
  6. Koda: nilai atau pelajaran yang bisa didapat dari teks cerita pendek oleh pembaca.

I.       Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen

Unsur Intrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk cerpen dari dalam. Unsur intrinsik tersebut yaitu:
  1. Tema: gagasan utama yang menjadi dasar cerita jalannya cerita pendek.
  2. Alur/Plot: tahapan urutan jalannya cerita pendek. Mulai dari perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian.
  3. Setting: meliputi latar/tempat, waktu, suasana yang terlihat cerita pendek.
  4. Tokoh: pelaku yang ada dalam cerita pendek. Setiap tokoh mempunyai watak tersendiri.
  5. Penokohan: sifat dari tokoh yang tercermin dari perilaku, sikap, ucapan, pikiran ,dan pandangannya terhadap suatu hal dalam cerita. Ada 2 mode penokohan:
1)      Metode Analitik: menggambarkan sifat tokoh yang ada dalam cerita secara langsung. Contoh nya: pemalu, penakut, pembohong.
2)      Metode Dramatik: menggambarkan sifat tokoh digambarkan secara tidak langsung dengan menggambarkan fisik, percakapan, dan reaksi tokoh lain.
  1. Sudut Pandang: cara pandang yang digambarkan oleh pengarang dalam suatu kejadian yang terjadi dalamnya. Sudut pandangnya:
1)      Sudut pandang orang pertama: Ada pelaku utama dan sampingan.
a.       Pelaku utama: “aku” akan menjadi pusat perhatian.
b.      Pelaku sampingan: “aku” muncul hanya muncul dalam pengantar dan penutup cerita.
2)      Sudut pandang orang ketiga: ada serbatahu dan pengamat.
a.       Serbatahu: sudut pandang “dia”, pengarang atau narator mengetahui segala hal yang berhubungan dengan tokoh “dia”.
b.      Pengamat: pengarang hanya menggambarkan apa yang dirasakan, dialami, dilihat, dan dipikir oleh seorang tokoh.
  1. Amanat: pesan moral yang disisipkan pengarang dalam cerpen supaya pembaca dapat menyerap pesan di dalamnya.
Unsur Ekstrinsik Cerpen
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk cerpen dari luar. Unsur ekstrinsik tersebut yaitu:
  1. Latar Belakang Masyarakat: dapat mempengaruhi terbentuknya jalan cerita dalam cerpen, misalnya: kondisi politik, ideologi, sosial, dan ekonomi masyarakat.
  2. Latar Belakang Pengarang: Latar belakang pengarang memuat tentang pemahaman, faktor-faktor, atau motivasi pengarang untuk membuat sebuah cerita pendek. Meliputi:
1)      Biografi: Riwayat hidup pengarang. bisa mempengaruhi pembuatan cerita pendek melalui pengalaman pribadi.
2)      Kondisi Psikologis: meliputi mood dan motivasi, kondisi ini sangat mempengaruhi dengan apa yang akan ditulis dalam cerita.
3)      Aliran Sastra: berpengaruh dalam gaya penulisan bahasa yang digunakan pengarang.

J.      Fungsi Sastra dalam Cerpen

Adapun di dalam cerita pendek terdapat fungsi sastra yang tergolong dalam 5 jenis, yaitu:
  1. Fungsi rekreatif: memberikan rasa senang, gembira, serta menghibur para pembaca nya.
  2. Fungsi didaktif: mengarahkan dan mendidik para pembaca nya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada didalamnya.
  3. Fungsi estetis: memberikan keindahan bagi para pembaca nya.
  4. Fungsi moralitas: mengandung nilai moral sehingga para pembaca nya dapat mengetahui moral yang baik dan tidak baik bagi diri nya.
  5. Fungsi relegiusitas: mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi para pembaca nya.
Kesimpulannya yaitu cerpen (cerita pendek) adalah karangan fiktif yang dibuat oleh seorang penulis. Pembuatan cerpen harus memperhatikan struktur dan baiknya terdapat fungsi cerita pendek. Itulah unsur-unsur dan ciri-ciri cerita pendek.

K.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Model Pembelajaran Talking Stick dalam Pembelajaran Cerpen Untuk Kelas VIII SMP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan    : SMP Negeri 1 Cibeber
Mata Pelajaran          : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester          : VIII/ Semester 2
Materi Pokok            : Cerita Pendek
Waktu                        : 90 Menit
A.    Kompetensi Inti
KI 1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
KI 2 : Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
KI 3 : Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan procedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian.
KI 4 : Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat)
B.     Metode Pembelajaran
1.      Ceramah
2.      Diskusi
C.    Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
No
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
1.
3.1 Mengetahui dan memahami Cerita Pendek baik melalui lisan maupun tulisan

3.1.1 Menjelaskan ; Pengertian, Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik, Ciri-ciri, Struktur, dan Fungsi dalam Cerita Pendek.





BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan

            Pembelajaran menggunakan Talking Stick yaitu pembelajaran yang menggunakan tongkat untuk berbicara dapat membantu pembelajaran Bahasa Indonesia dan siswa akan dengan cepat menguasai pembelajaran karena terdorong oleh permainan yang dilakukan dalam pembelajaran Talking Stik
            Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan makalah ini.

B.     Saran

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.












DAFTAR PUSTAKA

Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP.

Sri Wardhani. (2006). Contoh Silabus dan RPP Matematika SMP. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Tim PPPG Matematika. (2003). Beberapa Teknik, Model dan Strategi Dalam
Pembelajaran Matematika. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG Matematika.

Widowati, Budijastuti. 2001 Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

UTS Semantik

UTS Ilmu Alamiah Dasar

Tugas Ke-2 IAD