Semantik


TUGAS INDIVIDU
RANGKUMAN MATERI KELOMPOK 5
RELASI MAKNA
Nama                           : Risa Amaliah
NPM                           : 8820118029
Tingkat/Semester        : 2/4
Prodi                           : PBSI
Matakuliah                  : Semantik
Sumber Materi            : alegorinai.wordpress.com dan ikisputrirasi.blogspot.com
A.    Pengertian Relasi Makna
Relasi makna adalah hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi), dan lainnya (Abdul Chaer, 2013).
B.     Jenis-Jenis Relasi Makna
1.      Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satu satuan ujaran lainnya. Misalnya antara kata betul dengan kata benar. Contoh dalam bahasa Inggris antara kata freedom dan liberty.
Relasi sinonimi bersifat dua arah, maksudnya kalau satu ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B dan sebaliknya. Secara konkret kalau kata betul bersinonim dengan kata benar, kata benar bersinonim dengan kata betul.
Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. kesamaan itu terjadi karena berbagai faktor :
1)      Faktor waktu
2)      Faktor tempat atau wilayah
3)      Faktor keformalan
4)      Faktor social
5)      Faktor bidang kegiatan
6)      Faktor nuansa makna
2.      Antonim
Antonim adalah hubungan semantikatau antonimi antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik, kata mati berantonim dengan kata hidup. Sifat antonim dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
a.      Antonim yang bersifat mutlak.
Umpamanya kata hidup berantonim dengan kata mati, sebab segala sesuatu yang masih hidup tentu belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentu sudah tidak hidup lagi.
b.      Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi.
Umpamanya kata besar dan kecil berantonimi secara relatif. Jenis antonim ini disebut bersifat relatif, karena batas antara satu dengan lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas. Batasnya itu dapat bergerak menjadi lebih atau kurang. Karena itu, sesuatu yang tidak besar belum tentu kecil, dan sesuatu yagng tidak dekat belum tentu jauh. Karena itu pula kita dapat mengatakan misalnya lebih dekat, sangat dekat, atau juga paling dekat.
c.       Antonim yang bersifat hierarkial.
Umpama kata tamtama dan bintara berantonim secara hierarkial. Antonimi jenis ini disebut bersifat hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki.
3.      Polisemi
Dalam kasus ini biasanya makna pertama (yang didaftarkan di dalam kamus) adalah makna sebenarnya, makna leksikalnya, makna denotatifnya atau makna konseptualnya. Yang lain adalah makna-makna yang dikembangkanberdasarkan salah satu komponen makna yang dimiliki kata atau satuan ujaran itu.

4.      Homonimi
Homonimi adalah 2 buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna “inai” dan kata pacar dan yang bermakna “kekasih”.Jadi kalau pacar yang bermakna “inai”berhomonim dengan kata pacar yang bermakna “kekasih”.Maka,pacar yang bermakna “kekasih” berhomonim dengan kata yang bermakna “inai”
a.       Homofoni, Adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan.
b.      Homografi, Mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.
5.      Hiponimi
Adalah hubungan sematik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Misalnya:kata merpati mencakup dalam kata burung jadi merpati adalah hiponim dari burung dan burung berhipernim dengan merpati.
6.      Ambiguiti dan ketaksaan
Adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tefsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh: buku sejarah baru
Dapat ditafsirkan:
1)      buku sejarah itu baru terbit.
2)      buku itu memuat sejarah zaman baru.
7.      Redundansi
Istilah redudansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihan penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misal: kalimat bola itu ditendang oleh dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika.Jadi tanpa penggunaan. preposisi”oleh”. Penggunaan kata “oleh” inilah yang dianggap redudansi,berlebih-lebihan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UTS Semantik

UTS Ilmu Alamiah Dasar

Tugas Ke-2 IAD